//ASIKNYA BISNIS

ASIKNYA BISNIS

Tas KanvaS Etnik

KEGAGALAN adalah keberhasitan yang tertunda.
Pepatah itu cocok benar di tujukan ke Edwin Maidhanie.
Setelah gagal usaha klinik kesehatan, mundur sebagai manajer sebuaH perusahaan
ekspedisi di Bali, akhirnnya dia pulang kampung ke
Cimahi tahun 2005.

Di kota kelahirannya itu, dia berani
memutuskan berdagang donat sembari menjajakan tas
kanvas etnik buatan istrinya. Namun,siapa sangka, justru
di Cimahilah titik balik kehidupan Edwin dan istrinya
dimulai.”Waktu jualan dulu tidak ada yang percaya bila
saya bilang suami saya adalah mantan manajer” ucap
Ika yustika, istri Edwin.

Dalam perkembangannya usaha tas kanvas justru
lebih maju. Mula-mula iseng membuat 20 unit tas degan
modal Rp 200 ribu, lalu meningkat 100 unit dengan dana
produksi Rp 2 juta. Titik terang muncul tatkala tahun 2006
Pemkot Cimahi mendata UKM di seluruh wilayah itu
untuk dipromosikan ke ajang Pekan Raya Jakarta (PRJ).
Beruntunglah, tas etnik Edwin-Ika yang diberi merek
Maika Etnik lolos seleksi ikut pameran di PRJ dan berhasil
menjual 152 unit tas dalam tempo seminggu.

Ide produksi tas kanvas etnik berawal dari kegemaran
Ika menggambar. Wanita kelahiran 14 Agustus 1973 itu
sengaja memilih bahan kain kanvas sisa pabrik yang banyak terdapat di bandung.
Saat itu tas kanvas yang ada di pasaran hanya sablon,
bukan lukisan yang dipadupadankan dengan aksesori etnik.

Edwin mengklaim produk handmade-nya itu unik. Setidaknya ini terlihat dari sentuhan hiasan jelujur tangan, kancing tempurung kelapa, kain perca, pita renda, sulaman, atau bordir zig-zag dalam satu tema, sehingga setiap tas mempunyai karakter khusus.”Ciri khas produk Maika ada pada ide sketsa, permainan warna kain kanvas, hingga aksesori,”kata Yus, karyawan Maika Etnik, menguatkan pengakuan Edwin. Tas Maika memang ingin menghadirkan sentuhan etnik modern yang lebih atraktif agar disukai anak muda dan dewasa. Warna bahan dasar kanvas yang dipakai bisa mencapai 20 pilihan warna. Untuk bisa menghasilkal tas etnik yang cantik, diperlukan keahilan memadu warna, menggambar sketsa. dan memilih aksesori. Dan tiap enam bulan sekali terjadi pergantian tema dan desain tas. sehingga Maika lebih inovatif.
Produksi tas menarik saja tidak cukup, bila tidak dibarengi pola pemasaran yang jitu. Apalagi, jika modal produksinya terbatas. Menyadari hal itu, Edwin pun kreatif menawarkan pola kemitraan Distributor exclusive (Dex) lewat Internet. Dan, lagi-lagi keberuntungan datang dari PRJ, lantaran dari event tahunan itulah Dex perdana didapatkan. Dulu biaya menjadi Dex sekitar Rp 30 juta, rinciannya RP 5 juta untuk bayar lisensi Dex boleh order tas minimal 200 unit. sekedar informasi, sekarang biaya keanggotaan Dex naik menjadi total Rp 40 juta.
Struktur organisasi Dex bertingkat. Seorang Dex membawahkan puluhan subdistributor. Adapun subdistributor membawahkan distributor yang jumlahnya mencapai puluhan juga.
Distributor adalah level terakhir yang akan langsung berhubungan dengan pembeli.”namun, baik Dex maupun sub Distributor juga bisa langsung menjual ke konsumen dengan margin lebih besar,”Edwin menjelaskan.

Kehadiran Dex sangat mendukung penjualan Maika. Bukti-nya, dari tahun ke tahun omset meningkat yang tergambar dari volume produksi. Sebagai gambaran tahun 2008 produksinya mencapai 3.000 unit/bulan, lalu tahun 2009 naik menjadi 5-6 ribu unit/bulan, tahun 2010 melonjak ke angka 10 ribu unit/bulan dan tahun 2012 meleset hingga 17 ribu unit/bulan.
Adapun harga produk dibandrol Rp 90-160 ribu/unit.

Produk Maika tidak hanya popular di cimahi. Pembelinya datang dari seluruh penjuru Tanah Air melalui jaringan Dex dan distributor yang mewakili tiap provinsi. Bahkan, dari manca-negara, seperti Malaysia, Brunei Darusalam dan Australia.”untuk memenuhi permintaan tinggi dari dalam dan luar negri, kami mempekerjakan 150 orang, yang mana 50 orang adalah pekerja maklun di sekitar rumah produksi Maika,”imbuh Ika.

Sukses memproduksi tas kanvas dewasa, Maika dikembangkan juga ke devisi tas kanvas untuk anak. Lalu, ide bisnis ini ditawarkan ke kakak-kakak mereka untuk dikelola lebih focus mengunakan system Maika.lantas, lahirlah merek tas Konoka untuk anak, tas laptop merek Hirakedre laptop Chic, tas pesta Latalova, baju jins Lahla Belejvka, plus sepatu etnik mimosabi. Setiap merek memiliki pengelolaan produksi dan pemasaran yang berbeda sesuai dengan gaya manajemen masing-masing kakaknya.

Kesuksesan bisnis ini tak membuat pasangan suami-istri itu hanya memikirkan diri sendiri. keduanya memberdayakan masyarakat sekitar untuk produksi busana muslim dengan merek Queen Etnik.”pasarnya ada. Bahkan banyak karena mengunakan distributor kami juga. Kami bukakan jalan untuk meminjam di bank dengan Maika sebagai penjamin,”tambah Ika.
Maika pun berperan dalam pembuatan desain dan pemasaran.

Bagi Edwin, tahun 2012 merupakan tahun konsolidasi maika untuk merapikan system. Dengan omset diatas Rp 800 juta/bulan, dia merasa masih ada yang bisa dikembangkan agar bisa menyerap permintaan yang terus datang. Selain itu, dia juga ingin memproduksi ornament sendiri, seperti kancing.“Tetapi, itu kan membutuhkan investasi yang besar .mungkin pada tahun – tahun mendatang baru bisa terwujud,”ujar lelaki kelahiran 5 mei 1974 itu.

AndreVincentWenas memuji leadership Edwin dalam berbisnis.”Pak Edwin telah menjadi kapten atas usahanya ini. Karena, ide desain dan proses produksi ada di bawah kendalinya. Apalagi dengan berhasil meyakinkan customer menjadi Dex sudah menjadi modal kerja yang bagus di awal usaha dalam mengambil pasar yang lebih luas lagi,”kata Andre. Ia menyarankan,”jangan lupa mematenkan produknya. Ini penting karena bukan tidak mungkin banyak yang meniru.”selain itu, karena basis Maika adalah inovasi, sebaiknya Edwin tidak berhubungan langsung dengan end-user, tetapi harus bisa mengetahui consumen insight. Contoh, karakter pembeli, apa yang mereka butuhkan bagaimana tren bisnisnya di masa depan. Bila ini diterapkan bisnis tas kanvas etnik akan makin asyik.

Sumber : majalah SWA edisi xxvIII (26 april – 9 mei 2012)
Eva Martha RahayU & Rias Andriati
RISET : ARMIADI
fotografer : RUDYANTO WIBISONO

BACK

By | 2016-12-02T08:10:18+00:00 May 5th, 2012|Blog|Comments Off on ASIKNYA BISNIS