//MAJALAH KONTAN

MAJALAH KONTAN

Tas Berbahan Kanvas
Menjahit Laba dari Bisnis Tas Kanvas

Dupla Kartini P.S.

Sudah ada beragam model dan motif tas di pasar, mulai dari tas kulit, tas kanvas, sampai tas berbahan kain parasut.
Toh, pasar tas masih terbuka lebar.


Edwin Maidhanie pembisnis di Cimahi,
membuat tas kanvas dengan motif khas.

Tas ini laris, Omzet Edwin mencapai ratusan juta rupiah per bulan.
Selalu ada peluang bagi mereka yang kreatif, Tengok saja perjalanan bisnis Edwin Maidhanie dan istrinya Ika Yustika Pasangan asal Cimahi ini menekuni usaha tas kanvas merek Maika sejak 2005.

Edwin mengandalkan motif hiasan etnik saat mulai memproduksi tas kanvas ini. Pasalnya, menurut Edwin belum ada pemain di tas model ini. Ketika itu, menurut Edwin yang ada tas kanvas sablon.

Dengan modal Rp l0 juta, Edwin membeli bahan baku dan peralatan seperti mesin jahit, mesin potong,
mesin jahit zig-zag. Tas hand made Maika dibuat dari kain kanvas. Edwin juga memberikan sentuhan hiasan jelujur tangan, kancing tempurung kelapa. kain perca, pita,
renda, sulaman, alau bordir zig zag dalam satu tema,
sehingga setiap tas mempunyai karakter khas.

“Ciri khas produk Maika ada pada permainan warna kain kanvas, aksesorisnya, hingga ide sketsanya.
Hasil paduanya bisa mengesankan ciri khas etnik atau tema tertentu,” ujar Edwin.
Tim Maika memang ingin menghadirkan sentuhan etnik modern yang lebih atraktif agar disukai anak-anak muda dan orang dewasa.
Edwin menamai setiap model tas sesuai temanya Misalnya ada Tas India, Big Brazil Shine, purple Amazon, Bunga Puket, dan Etnik Bali. Tas India didontinasi warna merah dengan sentuhan mote, kancing, perca, dan jahit zig-zag yang melahirkan nuansa khas India.

Edwin bilang, produknya memang selalu memanfaatkan banyak warna. “Warna bahan dasar kanvas yang kita pakai saja 20 warna. Kebetulan di Bandung banyak pilihan warna kanvas, terangnya.
Tapi, untuk bisa menghasilkan tas etnik yang cantik, diperlukan keahlian memadu warna, menggambar sketsa, dan memilih warna aksesorisnya.
Untuk itu, Edwin selalu dibantu istrinya. Kini, pasangan ini sudah memiliki 300 desain tas kanvas.
untuk membuat sebuah tas, pertama-lama, para pekerja akan membentuk pola pada kanvas, Setelah dipolong sesuai pola, kain itu kemudian digambari sketsa.

Berikutnya, para karyawan Edwin tinggal menempelkan kain perca sesuai sketsa, menjahit zig zag, atau menyulam di kain itu. Setelah proses ini selesai, tas pun tinggal dijahit.
Edwin membuat tas selempang, holder, handbag (jinjing), dan backpack.

Dibantu sekitar 100 karyawan, seliap bulan Edwin dan Ika menghasilkan 9.000 – 10.000 tas, pemasaranya telah mencapai Jawa, Bali, dan Sumatera.
Pesanan rutin juga datang dan Brunei Darussalani dan Malaysia.

“Setiap kali ada pesanan dari luar negeri sekilar 500 buah. Tapi, kita belum bisa memenuhi semua permintaan, setiap bulan pesanan masuk sampai 15.000 buah,” kata pria kelahiran Bali ini.

harga tas Maika bervariasi, berkisar Rp 30.000 – Rp 95.000, tergantung tingkat kesulilan pembuatannya, Edwin bisa meraup omzet rata-rata Rp 450 juta sebulan. Sekitar 20% dari angka ini masuk ke kantong Edwin sebagai laba.

Pria 35 tahun ini yakin, prospek bisnis tas masih cerah. penduduk Indonesia tentu berkembang. Tergantung cara kita berkreasi mengembangkan desain baru,’ katanya.

BACK

By | 2016-12-02T08:10:20+00:00 April 2nd, 2012|Liputan|Comments Off on MAJALAH KONTAN