//MAJALAH PELUANG USAHA

MAJALAH PELUANG USAHA

Ika yustika Pandunesia, Pemilik Maika Etnik
Desain Tas yang Bakal Booming:
Etnik Modern yang
Berwarna ‘Ngejreng’

Usaha tas termasuk usaha yang tidak akan ada matinya, karena seorang wanita pasti selalu ingin tampil cantik dan gaul. Dan, tas merupakan salah satu kebutuhan untuk menunjang penampilan wanita.

Ika Yustika Pandunesia sadar betul bahwa produk yang unik, serta tidak pasaran merupakan kunci sukses usaha di bidang ini, Sehingga Ia sengaja menciptakan tas berbahan kanvas dengan aplikasi perca bertema etnik modern dengan warna ‘nabrak’, Dan ternyata, tidak hanya di datam negeri produk buatannya juga dipasarkan hingga ke luar negeri. Seperti apa geliat usahanya?

Sesuatu yang ‘beda’ dan unik tentunya akan selalu dicarI orang. Hal ini yang terus menJadi pegangan seorang Ika yustika Pandunesia, yang akrab disapa ika dalam menjalankan sebuah usaha.
Sehingga walaupun terbilang baru dalam usaha tas Ia justru berani menciptakon tren tersendiri, dibandingkan menjual produk yang telah branded.

Tas kreasinya ini, tas wanita berbahan kanvas dan jeans dengan ditempelkan beragam kreasi perca sehingga terlihat lebih santai, gaul dan eye catching.
Tas buatannya ini bernuansa ceria karena perca yang digunakan sebagai bahan pemanis selalu lebih dari satu warna sehingga terkesan ‘nabrak’ Untuk desain saya memang ceria dan berani warna, karena anak muda lebih menyukai produk-produk yang dinamis.’ ujar wanita kelahiran Bandung 14 Agustus 1973.
Ia melihat bahwa desain ini belum pasaran bahkan bisa menjadi tren ke depanya Maklum saja, pasar terbesar dari poduk buatannya adalah kalangan mahasiswa dan remaja yang selalu mengikuti tren.

IKA sendri memulai usaha tas rumahan ini sejak tahun 2004 dengan nama Maika EtnIk yang merupakan gabungan dan nama panggilanya dari suami.
Modal awal yang ia keluarkan sebesar Rp 2 Juta, dagunakan untuk mem beli bahan kanvas dan perca Karena modal terbatas waktu itu saya sengaja tidak membeli mesin jehit tetapi menjahitkan kepada orang lain, terang wanita yang masih belum memiliki anak ini.

Ciptakan Desain Sendiri. Bagi IKA menghadirkan sesuatu yang tidak ada di pasaran merupakan sebuah keharusan agar produknya dilirik, oleb pembeli Ia sengaja berkreasi dengan bahan perca mote ataupun kancing sebagai pemanis tas buatannya.

Saya melihat di Bandung banyak sekali sisa tekstil seperti perca yang justru unik jika dibuat produk baru. karena saya suka tas maka saya coba menempelkan perca pada buatan saya, tandas istri Edwin Madhanie yang dinikahinya pada tahun 2001 ini.

Tas wanita buatannya, menggunakan bahan dari kanvas atau jeans yang kemudian dipercantik dengan beragam tempelan perca ataupun payet di bagian depan.
Untuk kreasi perca, saat ini yang sedang dagemari remaja adalah mozaik perca (perca yang didesain beraturan dengan warna lebih dari satu) atau berbentuk lingkaran yang dipermanis dengan sedikit payet.

Menurut ika produknya ini banyak Juga terpengaruh oleh perkembangan baju yang bermotif tabrak seperti Laskar Pelangi (tie dye) Yang sedang digandrungi remaja adalah motif-mnotif tas dengan warna ceria bahkan terkesan nabrak hampir mirip dengan tren pakaian, cerita wanita yang hobi jalan-jalan ke mall untuk melihat tren.

Sampai saat ini IKA telah memiliki sebanyak 120 desain tas,dan untuk pergantian model dilakukan setiap 3 bulan sekali.
Tiap bulan maika etnik sendiri dapat memproduksi hingga dua ribu pcs, berbagai model tas.
Harga produknya bervariasi tergantung besar dan kecilnya tas, mulai dari harga Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu/pcs.

saat ini ia tidak menerima pembelian dalam bentuk satuan tetapi grosiran dengan minimal 20 pcs, Yang nantinya akan mendapatkan potongan harga hingga 20%.
Untuk system penjualan ia menggunakan system retur tetapi hanya untuk tas yang rusak, Dengan penggantian seharga barang yang sama, Hal ini pun paling lama satu bulan setelah pembelian.

Benahi Sistem Pemasaran
Di awal usaha ia menuturkan bahwa terbilang sulit untuk memasarkan produknya ini karena belum dikenal masyarakat padahal harga yang di tawarkan terbilang tinngi,”saya menyasar keseluruh kalangan tetapi karena bahan baku dan handmade sehingga biaya produksinya mahal yang menyebabkan harga tinggi,”jelasnya.

Di awal usaha ia mengunakan pameran sebagai media untuk memperkenalkan produknya, karena keunikan produknya,ia pun dilirik oleh pemerintah dan dijadikan mitra binaan pemkot Cimahi – Jawa Barat.
Menjadi mitra binaan membuka jalan sukses,karena produknya sering diikutkan dalam pameran besar secara gratis seperti PRJ di tahun 2006 “semenjak ikut pameran besar, banyak permintaan baik dari dalam ataupun luar negri,” ujar wanita yang murah senyum ini.

Dan ,untuk memperluas pasar ,selain ikut pameran di awal tahun 2007 ia juga mengunakan media online yaitu di
web : www.maika-etnik.com
blog : www.maika-etnik.blogspot.com

Selain mengunakan media online, IKA di bantu suaminya juga mengunakan konsep distributor produknya.
Distributor tunggal ini memiliki hak eksklusif memasarkan produk di daerah tersebut,” Dengan distributor tunggal ini, kantor pemasaran semakin bagus daripada menjual ritel,”jelasnya, ia mengakui bahwa selain produk yang bagus, pemasaran yang terarah juga merupakan salah satu kunci agar sebuah usaha maju sehingga tak mengherankan sampai saat ini Produk buatanya telah tersebar di seluruh Indonesia Seperti Jakarta, Surabaya, Kalimantan, aceh dan bali.
Untuk distributor tunggal sendiri telah ada di Jakarta, Salatiga dan Surabaya. Selain di Indonesia produknya juga telah dipasarkan hingga ke Malaysia sejak awal tahun 2006.

Karyawan, saat ini ia telah memiliki 15 orang karyawan, ada yang bertugas untuk membuat tas dan menjahit perca karyawan di bayar per satuan produk yang dijahit, untuk jahit tas Rp 1000 – 3000 dan Rp 700 hingga Rp 3000 untuk jahit perca tergantung tingkat kesulitanya.

Sedangkan untuk kebutuhan bahan baku setiap bulan seperti bahan kanvas sebanyak 1,5 meter dengan harga Rp 30 ribu/m. bahan jeans sebanyak 500 meter dengan harga Rp 17,5 ribu/meter, perca sebanyak 50 kg dengan harga Rp 30 ribu/kg. dan bahan penunjang seperti kancing, mote dan renda sebesar Rp 3 juta. Untuk kebutuhan bahan baku, ia biasanya membeli di pasar cigonewah dan pasar Antapani,Bandung Jawa Barat.

IKA sendiri menuturkan bahwa ia tidak menemukan banyak kendala dalam mengembangkan usaha ini.
Kini dalam sebulan, IKA dapat memperoleh omset sebesar Rp 100 juta dengan keuntungan 20% atau Rp 20 juta.
Sehingga tak mengherankan, saat ini IKA telah memiliki sebuah rumah dan worksop, di daerah Cimahi – Jawa Barat, dan kedepanya ia berencana tidak hanya membuat tas saja tetapi mungkin menambah keusaha pernak –pernik wanita lainya seperti sandal.

Cara Membuat Tas Kanvas ala Maika
– Bahan kanvas selebar 50 cm x 50 cm
– Kertas gambar pola
– Berbagai potongan perca
– Payet dan alat jahit

Cara membuat:
– Gambar pola yang diinginkan di atas kertas pola,lalu tempel pada tas dan perca
– Untuk di perca gunting sesuai pola, lalu taruh perca di atas kain kanvas dan jahit
– Setelah desain tas tampak depan sudah terbuat, baru kemudian dijahit membentuk tas, perca dan payet memang dipasang terlebi dahulu agar lebih mudah diperbaiki jika terjadi kesalahan.
– Siap di pasarkan.

Asumsi Pendapatan Maika Etnik per Bulan:
1. Modal awal (tahun 2003) Rp 2.000.000
2. bahan baku Rp 58.250.000
– Perca Rp 1.500.000
– Kanvas Rp 45.000.000
– Jeans Rp 8.750.000
– Bahan penunjang Rp 3.000.000
3. biaya Oprasional Rp 21.300.000
– Listrik Rp 800.000
– Telpon Rp 500.000
– Gaji karyawan Rp 20.750.000
4. Omset Rp 100.000.000
5. Keuntungan Bersih ( 20% dari omset) Rp 20.450.000

BACK

By | 2016-12-02T08:10:19+00:00 April 2nd, 2012|Liputan|Comments Off on MAJALAH PELUANG USAHA