//MAJALAH REALITA

MAJALAH REALITA

WAKTU LUANG

Edwin Maidhanie, Pemilik Maika Etnik
Merajut Laba Bersih Hingga Lebih dari 80 Juta per Bulan Dengan Bisnis Tas Etnik
Siapa sangka, jika kecintaan sang istri pada produk-produk yang unik dan bermotif temyata membawa Edwin pada sebuah kesuksesan.

Bisnis tas etnik yang dirintis berdua bersama sang istri ini kini telah berhasil meraup omset hingga 400 juta rupiah per bulan dengan laba bersih mencapai lebih dari 80 juta rupiah per bulan.

Bagaimana kisah sukses Edwin dalam merintis usaha tas etniknya ini?

Tas merupakan sebuah aksesoris yang pasti
dibutuhkan oleh kaum hawa. Bisnis produk tas tidak akan pernah mati, karena
setiap wanita pasti membutuhkannya. Dan disitulah, Edwin dan sang istri memutuskan untuk merintis sebuah bisnis tas.

Bedanya, Edwin dan sang istri menuangkan kreativitasnya pada benda yang hampir selalu dibawa para wanita di setiap kesempatan itu sehingga menjadi sebuah tas etnik yang cantik. Kini, tas etnik produksi mereka sudah dikenal luas oleh masyarakat, bukan lagi Indonesia, melainkan manca negara.

Kepada realita, Edwin menceritakan kisah suksesnya merintis sebuah bisnis tas etnik yang kemudian Ia namakan Maika Etnik.

Hobi Istri. Usaha ini awalnya dirintis oleh istri Edwin yang bemama Ika Yustika Pandunesia pada tahun 2003 di Bali. Berangkat dari kecintaan sang istri pada design produk yang unik dan bermotif, serta warna-warna tabrakan,
akhirnya dimulailah bisnis barang-barang dengan kreasi etnik.

Awalnya, suami istri ini mencoba berbisnis beberapa produk seperti baju, t-shirt, dekorasi, wall hanging, baju anak, dan beberapa produk lain. Namun setelah beberapa lama, akhirnya tas menjadi produk pilihan mereka dalam berbisnis.
Bagi Edwin, Tas merupakan produk yang tepat untuk mengadaptasikan design Ika yang cenderung ramai dengan warna tabrakan dan perca bertumpuk penuh dengan kancing serta manik-manik, Kita bisa terapkan semua itu pada bagian depan tas tanpa harus mengganggu kenyamanan si pemakai, ungkapnya.

Pada awalnya, sang istri hanya membuat design sebanyak mungkin, lalu mereka berdua memilah design mana saja yang bisa dibuat secara massal. Stock awal pembuatan hanya 20 pcs yang kemudian dijual ke beberapa orang di sekitarnya. Tanpa disangka, teryata responnya sangat bagus. Melihat responnya yang bagus.
Edwin kemudian memutuskan untuk mulai mengikuti pameran kecil seperti bazaar Ramadhan yang pernah Ia ikuti dengan modal Rp 2 juta untuk produksi tas 100 pcs.

Pada saat itu stan kita dipenuhi ibu-ibu dan anak ABG. dan disitu kita mulai percaya bahwa produk kita diminati dan teruji.
kenanganya. Pada tahun yang sama. Edwin mulai fokus untuk produksi massal. Saat mulai merintis bisnis ini. pria kelahiran Kota bumi, 05 Mei 1974 ini juga mengaku sering sekali mengalami kegagalan terutama dalam hal proses produksi yang tidak sesuai standard.
Awalnya proses menjahit dilakukan secara outsource karena keterbatasan modal dan tidak tersedianya sarana yang memadai, Namun kami tetap semangat dan tidak pernah kenal lelah apalagi putus asa. karena kami punya mimpi, tuturnya yakin.

System Distributorship.

Barulah pada tahun 2006. Ia dibantu PEMKOT Kota Cimahi. Jawa Barat mengikuti pameran dan promosi gratis. seperti:
Jakarta Fair. Jawa Barat Expo di Graha Siliwangi Bandung, Cinta Produk Jawa Barat di Hotel Horison Bandung. dan beberapa event lainya.
Setelah menuai keberhasilan di setiap pameran yang diikuti, Edwin pun kemudian
semakin yakin mengambil langkah untuk memasarkan produknya melalui internet, Ia kemudian membuat blog dan website yang khusus ia gunakan untuk promosi sekaligus beritransaksi.

Hanya saja ada sedikit perbedaan dalam sistem pemasarannya, yakni Edwin menerapkan System Distributorship yang mana Distributor tidak dapat memesan Iangsung ke Warehouse, akan tetapi harus melalui DEX (Distributor Exclusive) di masing-masing propinsi.

Oleh karena itu. Edwin memiliki beberapa tingkatan harga agar Distributor dapat bersaing secara sehat, Dengan menjadi Exclusive Distributor, maka mereka bisa menguasal area penjualan dan Maika Etnik akan
tetap mernbantu sepenuhnya dalam hal promosi dan referensi guna memperlancar Jaringan distribusi produk.

Jika ada yang ingin menjadi distributor pada area tersebut, maka sepenuhnya menjadi Hak Distributor Exclusive (yang telah mendaftar terlebih dahulu) untuk mendistribusikan Produk Maika Etnik.

Adapun keuntungan dengan system distributorship di antaranya Edwin tidak perlu menyiapkan banyak Staff Customer Service untuk melayani order dan distributor karena alur pemesanan dibatasi. Sedangkan Customer Service yang Ia miliki hanya akan menangani order dan DEX di masing-masing propinsi.

Sedangkan kendalanya, ia harus benar-benar bisa secara proaktif meyakinkan distributor akan benefit yang didapat jika bergabung untuk memasarkan produk Maika Etnik. Dan hingga kini. Edwin memilih untuk tidak menerima pesanan di luar design yang Ia buat.
Jumlah pelanggan dan order yang terus meningkat membuatnya sulit untuk menerima pesanan di luar design yang Ia buat, bahkan Edwin mengaku terus menambah jumlah karyawan demi terciptanya sebuah produk yang sesuai standar dengan hasil yang maksimal.

Misi saya mendirikan bisnis ini adalah selain untuk menggali kreativitas dengan memanfaatkan kemudahan bahan baku, serta menawarkan bentuk fashion baru bagi konsumen, misi penting lainnya adalah membuka lapangan kerja baru, tandasnya.

Indonesia dan Manca Negara. Dengan sistem pemasaran via internet dan penerapan Distributor Exclusive serta distributor di beberapa wilayah di Indonesia, tidak heran jika produk Maika Etnik milik Edwin ini dengan cepat mulai dikenal oleh masyarakat luas, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Hingga kini, pemasarannya pun sudah mencakup beberapa daerah besar di Indonesia, yakni Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Jambi, Palembang, Lampung, Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Prop. Banten dan seluruh Jawa Barat, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, dan Papua. Tidak hanya di Indonesia, produk Maika Etnik juga telah menjamur di luar Indonesia seperti Malaysia, Singapura. dan Brunel Darussalam.

Setelah sukses dengan bisnis tas etnik, Edwin juga telah mencoba memproduksi item lain selain tas, yakni small case (dompet) dengan Merek MAIKA, tas anak dengan merek KONOKA dan tas laptop dengan merek HIRAKEDRE Laptop Chic. Tak cukup puas sampai di situ. dalam waktu dekat, Edwin juga berencana mengeluarkan produk topi anak serta Tools Hanger.

Untuk segmentasi pasar produk tas Maika Etnik ini sendiri adalah untuk wanita dengan kisaran usia 15-40 tahun. Pasar produk ini juga sebenarnya mencakup seluruh strata ekonomi, mengingat harga jualnya yang cukup terjangkau dengan kisaran harga yang tidak mencapai angka Rp 100.000 Untuk bahan mentahnya sendiri. Edwin sengaja menggunakan bahan yang memang sangat mudah didapat dengan harga yang terjangkau.

Beberapa bahan mentah yang digunakan di antaranya, Kain Kanvas dan Jeans seharga Rp 21.500 per yard. Kain Perca seharga Rp 30.000 per kg, Kain Voenng seharga Rp 17.000 per meter, Kancing Batok Kelapa
seharga Rp 350 per pc, Mute/Manik-manik seharga Rp 12.000 per gross, Peper Ban seharga Rp 30.000 per kg, Busa 3 mm seharga Rp 550.000 per roll ( 1 Roll = 100 Yard ), dan Gagang Kayu seharga Rp 6.000.
Sedangkan untuk alat yang digunakan dalam proses pembuatan tas etnik ini sendiri. Edwin sengaja menggunakan empat buah mesin jahit dengan fungsi yang berbeda-beda, yakni Mesin Jahit Zigzag seharga Rp 3.000.000 per unit, Mesin Jahit JUKI seharga Rp 5.000.000 per unit, Mesin Obras seharga Rp 2.500.000 per unit, dan Mesin Potong seharga Rp 5.000.000 per unit, Omset 400 Juta.

Adapun untuk proses pembuatan dan pemasaran, Edwin telah memiliki staf sebanyak 120 orang yang terbagi menjadi 15 orang di bagian stat kantor, 45 orang di bagian produksi, dan 45 orang untuk proses sulam.
Dengan memiliki staf sebanyak itu, dalam sehari Edwin mampu memproduksi barang hingga 625 pcs atau 15.000 pcs per bulan (24 hari kerja).

Sedangkan pemesanan yang datang pun tak jauh berbeda dari jumlah produksi, yakni sekitar 10.000 hingga 15.000 pcs per bulan, Sehingga menurut Edwin untuk rata-rata biaya pembuatan produknya, termasuk bahan mentah dan gaji karyawan adalab Rp 336.000.000 per bulan.

Namun, karena penjualan yang juga hampir mencapai jumlah produksi per bulannya, maka omset yang masuk pun tergolong fantastis, yakni Rp 420.000.000 per bulan.
Bisa dikatakan Setiap bulan, Edwin merenggut laba bersih rata-rata Rp 84.000.000 per bulan, Sebuah angka yang cukup besar Mengingat bisnis ini baru ia rintis selama lebih kurang 6 tahun.
Namun bagi Edwin, ketekunan dan sikap pantang menyerahnya dalam berbisnis adalah modal terbesar yang ia miliki sehingga bisnis yang awalnya hanya kecil-kecilan ini kini bisa merengguk keuntungan luar biasa.

Alamat Maika-Etnik:

Edwin Maidhanie JI. Pojok Utara Gg. Muda IV No.20 RT. 01 RW.04 Kelurahan Setiamanah Kota Cimahi, Jawa Barat
No. Telepon :022 91987335

www.maika-etnik.com

cara pembuatan tas etnik:
1. Gambar pola pada kain dan perca
2. Potong kain dan perca sesuai pola yang telah dibuat
3. Tempelkan perca yang telah dipotong sesual pola tersebut menjadi bentuk seperti yang cliinginkan
4. Tempelkan perca tersebut
dengan kain mengguriakan
mesin jahit dengan pola jahit zig zag
5. Gambar sketsa untuk sulam di atas kain dengan pensil
6. Sulam aksesoris yang diinginkan, seperti mote, manik-manik,
tempurung kelapa, atau yang Iainnya di atas sketsa
7. Jahit keseluruhan las ciengan menggunakan pola jahit rakit
8. Pasang hang tag atau packing

BACK

By | 2016-12-02T08:10:20+00:00 April 2nd, 2012|Liputan|Comments Off on MAJALAH REALITA